ANALYZEDESIGNDEVELOPDELIVERSYNERGY
Insight5 Februari 2026
3 MENIT

MENJADI PEMIMPIN "BUNGLON": MENGAPA SITUATIONAL LEADERSHIP TETAP RELEVAN?

People Developer Team

People Developer Team

MENJADI PEMIMPIN "BUNGLON": MENGAPA SITUATIONAL LEADERSHIP TETAP RELEVAN?

Di dunia yang bergerak sangat cepat, memimpin dengan gaya kaku ibarat mencoba navigasi Google Maps menggunakan peta kertas tahun 90-an. Seringkali membingungkan, tidak relevan dan bikin tersesat. Di sinilah Situational Leadership (Kepemimpinan Situasional) hadir sebagai alternatif jawaban bagi para pemimpin.
What: Apa Itu Situational Leadership?
Dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard, model ini menjelaskan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan tunggal yang terbaik. Kuncinya adalah menyesuaikan gaya Anda dengan tingkat kompetensi dan komitmen anggota tim.
Kepemimpinan ini membagi respon pemimpin menjadi empat kuadran:
1. S1 (Directing): Instruksi jelas (High Directive, Low Supportive)
2. S2 (Coaching): Arahan plus dukungan (High Directive, High Supportive)
3. S3 (Supporting): Fokus pada motivasi (Low Directive, High Supportive)
4. S4 (Delegating): Lepas kendali penuh (Low Directive, Low Supportive)
Contoh dalam Organisasi
Mari kita lihat bagaimana gaya ini diterapkan pada satu orang yang sama, sebut saja “Budi” dalam perjalanan kariernya:
1. S1 (Directing) – Si Anak Baru: Budi adalah fresh graduate yang baru bergabung. Dia punya semangat tinggi tapi belum tahu cara memakai sistem internal perusahaan.
Action: Anda memberikan instruksi sangat detail, langkah demi langkah: "Budi, masukkan data ke tabel ini setiap jam 4 sore, lalu kirim laporannya ke email dan wa ke saya."
2. S2 (Coaching) – Mulai Bisa Tapi Kadang Bingung: Setelah 3 bulan, Budi mulai paham teknisnya, tapi ia sempat salah input dan jadi agak ragu.
Action: Anda berdiskusi dengannya: "Budi, menurutmu kenapa data ini bisa meleset? Yuk kita diskusi dan cari solusinya bareng-bareng supaya kamu makin jago."
3. S3 (Supporting) – Si Ahli yang Sedang Burnout: Budi kini sudah ahli, tapi dia merasa jenuh karena pekerjaannya repetitif. Kepercayaan dirinya menurun, rasa puas dan menang yang pernah ada serasa mulai redup.
Action: Anda tidak lagi mengajarinya cara kerja, tapi lebih banyak mendengar: "Budi, kinerjamu luar biasa lho selama ini. Apa ada proyek baru yang ingin kamu coba supaya semangat lagi?"
4. S4 (Delegating) – Si Andalan: Budi kini sudah senior dan sangat kompeten.
Action: Anda cukup berkata, "Budi, pegang proyek X ya. Kabari saya kalau sudah selesai atau kalau ada kendala besar."
Why: Mengapa Masih Relevan?
Mungkin Anda bertanya, "Ini teori lama, apa masih mempan, relevan buat Gen Z atau tim yang kerjanya remote?" Justru lebih relevan dari sebelumnya.

1. Keberagaman Angkatan Kerja: Memimpin Gen Z yang haus akan feedback (S2) tentu berbeda dengan memimpin Senior Manager yang sudah "makan asam garam" (S4).
2. Tren Remote Work: Tanpa tatap muka, pemimpin harus makin jeli dalam menilai dan komitmen setiap anggota tim. Orang yang baru bekerja dari rumah mungkin butuh arahan jelas (S1) agar tidak merasa "hilang" di tengah fleksibilitas.
How: Bagaimana Menerapkannya?
Nah, menjadi pemimpin situasional bukan berarti Anda tidak punya pendirian, melainkan Anda memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Langkah praktisnya:
1. Diagnosa: Sebelum memberi perintah, nilai level kematangan tim pada tugas spesifik tersebut.
2. Fleksibilitas: Jangan terjebak pada zona nyaman. Jika Anda terbiasa "lepas tangan" (S4), berlatihlah untuk kembali memberikan instruksi (S1) saat tim menghadapi teknologi AI baru yang asing bagi mereka.
Kesimpulan
Situational Leadership bukan tentang mengubah kepribadian Anda, melainkan tentang mengubah strategi. Di era saat ini, kemampuan Anda untuk membaca situasi dan menyesuaikan "frekuensi" dengan tim adalah kunci utama agar organisasi tetap tangguh dan berkinerja tinggi.
Pertanyaan Refleksi
1. Sudahkah saya berusaha untuk mengubah strategi dalam kepemimpinan saya agar dapat menyesuaikan “frekuensi” dengan tim yang saya pimpin?
2. Coba pikirkan, 1 (satu) hal yang paling menghambat saya untuk dapat memimpin dengan model Kepemimpinan Situasional ini!
3.Pikirkan, 1 (satu) hal yang akan mulai Anda lakukan dalam memimpin tim setelah membaca artikel ini?

Siap Bertransformasi?

Mari diskusikan bagaimana kami dapat membantu mengakselerasi pertumbuhan organisasi Anda.

HUBUNGI KAMI
Akhir dari Insight